Jumat, 12 Desember 2014

Jangan merasa paling benar/sok benar ? Begitukah ?

Penjelasanku mengenai agama yang pernah kusampaikan kepada kalian, anggaplah itu sebagai kalimat2 kosong dan tak layak untuk diingat.

Karena saya teringat perkataan beliau : "jangan merasa paling benar/sok benar" Pikirku orang yang terlihat benar belum tentu akhlaknya benar, dan orang yang terlihat tidak benar ternyata akhlaknya benar.
Karena perkataan beliau, Saya menjadi skeptis tentang hal-hal yang berbau kebenaran, butuh bukti banyak tentang kebenaran itu. Jika tidak ada bukti, saya akan menganggap orang sok benar.
Saya sekarang juga menjadi skeptis kepada perkataan beliau. Perkataan apa saja, saya jadi ragu dengan kebenarannya itu. Terkadang saya berpikir "jangan-jangan dia sok benar juga, tapi dia merasa dirinya benar".

Lama kelamaan saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri "Memang kebenaran itu, tidak ada yang paling-paling benar ?
Kenapa dia bilang jangan merasa paling benar ? apa itu artinya saya tidak boleh paling benar ?
Apakah saya harus setengah benar ? Apakah kebenaran itu relatif ? 
Kebenaran itu sebenarnya ada gak sih ? beliau itu memang paling benar apa setengah benar ?
Saya harus belajar kepada guru yang paling benar apa yang setengah benar ?
Kalau beliau paling benar, mengapa dia melarangku untuk paling benar ? Apakah ini pertanda kalau saya tidak boleh mengikuti jejaknya ? Tapi kenapa ? Salahkah mengikuti jejak paling benar ?".

Ada 1000 kemungkinan dipikiranku dari kalimat-kalimat "jangan merasa paling benar/sok benar".
Namun ada salah satu dari 1000 kemungkinan mengapa beliau bilang "jangan merasa paling benar/sok benar". Mungkin supaya saya tidak bersikap sombong kepada orang lain tentang hal-hal semacamnya :)

0 komentar:

Posting Komentar

 
;