Besok ada remed PKN, kata gurunya semua kena remed. Terdengar aneh memang, kurang masuk akal kalau semuanya kena remed PKN. Masa iya semuanya kena remed, di remed ini semuanya suruh hafalin teks UUD negara republik indonesia dan proklamasi kemerdekaan. Dibalik remed ini saya yakin guru PKN ini mempunyai rencana lain.
Perkiraan saya yang tak masuk akal nih jangan2 guru PKN cuma mau ngetroll (jail) sama anak muridnya, ya namanya juga perkiraan yang gak masuk akal :v. Tapi perkiraan saya yang cukup masuk akal adalah karena kurangnya semangat patriotisme para remaja modern ini, Akhirnya guru PKN memberikan tugas untuk menghafalkan UUD dan proklamasi kemerdekaan supaya semangat patriotisme para remaja tidak hilang di zaman yang semakin canggih ini. Apalagi di sekolah saya ini, dalam belajar kita menggunakan IT. Mungkin sang guru khawatir tentang kecanggihan IT ini, karena bisa melupakan jasa2 yang ada diindonesia.
Saya cukup mengerti, walaupun hasil analisa saya mungkin saja bisa salah.
Remed ini membuat saya sulit. Mengapa harus menghafalkan sih, dari dulu saya gak suka hafalan. Hafalan itu mudah hilang, karena akan tenggelam didalam pikiran seiring berjalannya waktu. Menurut saya hafalan itu seperti hinggap di bagian luar otak saya. Karena yang saya hafalkan itu belum tentu saya mengerti apa makna2 dari hafalan tersebut.
Hafalan ini sepertinya hanya melatih memori otak saja. Tidak mengerti apa makna2 yang terkandung dari hafalan terbsebut, menurut saya itu percuma. Melatih memori otak ya, mungkin tidak akan lama hinggap di memori otak ini tanpa adanya keinginan. Saya tidak ada keinginan untuk menghafal UUD dan proklamasinya, tapi saya mempunyai keinginan untuk memahaminya. Saya sudah berencana untuk memahami isi kandungan dari UUD dan teks proklamasihnya. Entahlah, saya juga heran mengapa saya lebih menyukai memahami suatu dibandingkan menghafal sesuatu. Mungkin karena saya suka berpikir kali ya, jadi ya lebih ke akal gitu.
Saya masa bodo lah dengan remed ini, saya lebih baik terima hasil ulangan dengan bersih saja. tanpa adanya noda remed yang menyusahkan. Kalaupun nilai saya jelek, tak apalah. Yang penting ini hasil sendiri, tanpa menyontek teman. Remed itu seperti Sogok. ibaratnya seperti saat mendaftar sekolah favorit tapi tidak diterima, tapi karena adanya sogokan bisa diterima. Sama halnya dengan remed, nilai ulangan dibawah KKM, tapi karena adanya remed nilai bisa dinaikan walau pas2an sih.
Pikir saya mungkin ini hanyalah permainan mereka, saya tidak mau terlibat dalam permainan mereka.
Perkiraan saya yang tak masuk akal nih jangan2 guru PKN cuma mau ngetroll (jail) sama anak muridnya, ya namanya juga perkiraan yang gak masuk akal :v. Tapi perkiraan saya yang cukup masuk akal adalah karena kurangnya semangat patriotisme para remaja modern ini, Akhirnya guru PKN memberikan tugas untuk menghafalkan UUD dan proklamasi kemerdekaan supaya semangat patriotisme para remaja tidak hilang di zaman yang semakin canggih ini. Apalagi di sekolah saya ini, dalam belajar kita menggunakan IT. Mungkin sang guru khawatir tentang kecanggihan IT ini, karena bisa melupakan jasa2 yang ada diindonesia.
Saya cukup mengerti, walaupun hasil analisa saya mungkin saja bisa salah.
Remed ini membuat saya sulit. Mengapa harus menghafalkan sih, dari dulu saya gak suka hafalan. Hafalan itu mudah hilang, karena akan tenggelam didalam pikiran seiring berjalannya waktu. Menurut saya hafalan itu seperti hinggap di bagian luar otak saya. Karena yang saya hafalkan itu belum tentu saya mengerti apa makna2 dari hafalan tersebut.
Hafalan ini sepertinya hanya melatih memori otak saja. Tidak mengerti apa makna2 yang terkandung dari hafalan terbsebut, menurut saya itu percuma. Melatih memori otak ya, mungkin tidak akan lama hinggap di memori otak ini tanpa adanya keinginan. Saya tidak ada keinginan untuk menghafal UUD dan proklamasinya, tapi saya mempunyai keinginan untuk memahaminya. Saya sudah berencana untuk memahami isi kandungan dari UUD dan teks proklamasihnya. Entahlah, saya juga heran mengapa saya lebih menyukai memahami suatu dibandingkan menghafal sesuatu. Mungkin karena saya suka berpikir kali ya, jadi ya lebih ke akal gitu.
Saya masa bodo lah dengan remed ini, saya lebih baik terima hasil ulangan dengan bersih saja. tanpa adanya noda remed yang menyusahkan. Kalaupun nilai saya jelek, tak apalah. Yang penting ini hasil sendiri, tanpa menyontek teman. Remed itu seperti Sogok. ibaratnya seperti saat mendaftar sekolah favorit tapi tidak diterima, tapi karena adanya sogokan bisa diterima. Sama halnya dengan remed, nilai ulangan dibawah KKM, tapi karena adanya remed nilai bisa dinaikan walau pas2an sih.
Pikir saya mungkin ini hanyalah permainan mereka, saya tidak mau terlibat dalam permainan mereka.

0 komentar:
Posting Komentar