Sabtu, 03 Januari 2015 0 komentar

Psotingan macam apa ini

Kadang saya kalo ngeliat postingan blog lain tuh bagus2 kata2nya, saya mau coba tapi kok hasilnya malah aneh.
Sering banget saya mencoba tapi susah, Saya mau buat postingan ini aja bingung. Gak ada ide. Ada sih ide cuman gak bisa dituliskan, it's kamfret moment.
Bisakah saya menjadi penulis ? mungkin saya lebih pantas jadi filsuf, karena suka mikir2 hal dengan mendasar.
0 komentar

Cewek oh cewek

Kira2 ini terjadi 2 tahun yang lalu krang lebih. Dia itu cewek 1 kelas, satu khursus sama saya.
Sebenarnya kalo diliat-liat dia biasa aja, tapi auranya itu lho luar biasa. Pertama kalinya ngliat dia saya ngrasa ada yang aneh. Saya mempunyai kesulitan kalo menatap dia, klo lagi saling menatap, jantung saya berdebar-debar. Tapi sebenarnya klo sama semua cewek saya emang suka gitu sih, hehe tapi itu dulu.
Lama kelamaan rasa suka saya timbul, tapi saya orangnya gak langsung bilang suka sih. Saya mesti ngestalk dia dulu, lewat medsos pastinya. Setelah ketemu akunnya, akhirnya saya ngliat status2nya.
Ternyata naas, dia udah punya pacar. Soalnya distatus2nya itu ada cowok yang suka komen statusnya mulu, dari situ saya mulai cemburu. Tapi, gak ada gunanya. Akhirnya saya berusaha melupakannya "menyedihkan".

Setelah 2 tahun berlalu, kira2 dibulan menjelang puasa. Saya lagi masa2 jonesnya tuh, pengen nyari pacar gitu. Cewek yang sederhana lah, tapi pintar juga. Kenapa cewek yang sederhana, biar nantinya klo berumah tangga gak nyusahin Pffftch :v , Memang dari dulu saya kalo mau pacaran pasti memikirkan kedepannya, tapi kadang terlalu jauh sehingga pikiran saya kerap kali terganggu -_-. 
Ya kira2 bgitulah, saya mau nyari pacar yang sesuai dengan pilihan saya. Waktu online di facebook, tiba2 saya liat cewek yang dulu saya sukain online. Saya rindu dengannya, tapi sya khawatir dia masih punya pacar. Waktu itu sya berharap sekali dia jomblo. Ternyata tuhan memberikan saya kesempatan, dia jomblo waktu itu. Akhirnya saya mulai ngedektin dia (tapi lewat medsos doang sih), saya udah keluar dari khursus itu. Jadi saya udah sama sekali gak pernah ketemu dia. Jadi kangen masa2 itu, seandainya waktu bisa diulang lagi. Mungkin saya bakal kembali ke waktu 1 kelas itu.

Cukup segini dulu, besok2 lanjutin lagi deh.
0 komentar

Curhat dikit

     Sebenaranya saya gak pandai dalam menulis blog, karena saya mempunyai kesulitan dalam menuliskan apa yang saya pikirkan. Saya lebih suka memikirkan tentang kehidupan ini. Perenungan demi perenungan, saya slalu merenung. Perenungan itu kerap kali menimbulkan kutipan2 untuk hidup yang sedikit memotivasi (bagi saya, iya). Gak jarang saya suka ngepost kutipan2 itu di medsos, Tapi mungkin mereka akan menganggapnya sebagai copas (copy paste) dari orang.
Dari pandangan orang lain mungkin saya dianggapn sebagai pemalas/penglamun. 
Biarlah orang memandang seperti itu, karena pandangannya tentang saya hanyalah kekosongan yang tak berarti (orang pandangannya gak sesuai sama kenyataan). Walau begitu, saya peka dengan kenegatifan. Saya melihat seseorang dengan pandangan negatif dengan orang2 tertentu.
Kalau ada orang yang perilakunya kasar ke saya, saya selalu memikirkan orang itu. Bertanya2 kepada diri sendiri, "Kenapa dia marah ? kok bisa dia berlaku kasar ? dia didik ortunya kayak gimana ya, sampe dia brtindak kasar sperti ini ?"

Sudahlah sampe sini dulu, bingung mau nulis apalagi -_-
Minggu, 14 Desember 2014 0 komentar

Remed yang menyusahkan, Merugikan diri sendiri

Besok ada remed PKN, kata gurunya semua kena remed. Terdengar aneh memang, kurang masuk akal kalau semuanya kena remed PKN. Masa iya semuanya kena remed, di remed ini semuanya suruh hafalin teks UUD negara republik indonesia dan proklamasi kemerdekaan. Dibalik remed ini saya yakin guru PKN ini mempunyai rencana lain.
Perkiraan saya yang tak masuk akal nih jangan2 guru PKN cuma mau ngetroll (jail) sama anak muridnya, ya namanya juga perkiraan yang gak masuk akal :v. Tapi perkiraan saya yang cukup masuk akal adalah karena kurangnya semangat patriotisme para remaja modern ini, Akhirnya guru PKN memberikan tugas untuk menghafalkan UUD dan proklamasi kemerdekaan supaya semangat patriotisme para remaja tidak hilang di zaman yang semakin canggih ini. Apalagi di sekolah saya ini, dalam belajar kita menggunakan IT. Mungkin sang guru khawatir tentang kecanggihan IT ini, karena bisa melupakan jasa2 yang ada diindonesia.
Saya cukup mengerti, walaupun hasil analisa saya mungkin saja bisa salah.

Remed ini membuat saya sulit. Mengapa harus menghafalkan sih, dari dulu saya gak suka hafalan. Hafalan itu mudah hilang, karena akan tenggelam didalam pikiran seiring berjalannya waktu. Menurut saya hafalan itu seperti hinggap di bagian luar otak saya. Karena yang saya hafalkan itu belum tentu saya mengerti apa makna2 dari hafalan tersebut.
Hafalan ini sepertinya hanya melatih memori otak saja. Tidak mengerti apa makna2 yang terkandung dari hafalan terbsebut, menurut saya itu percuma. Melatih memori otak ya, mungkin tidak akan lama hinggap di memori otak ini tanpa adanya keinginan. Saya tidak ada keinginan untuk menghafal UUD dan proklamasinya, tapi saya mempunyai keinginan untuk memahaminya. Saya sudah berencana untuk memahami isi kandungan dari UUD dan teks proklamasihnya. Entahlah, saya juga heran mengapa saya lebih menyukai memahami suatu dibandingkan menghafal sesuatu. Mungkin karena saya suka berpikir kali ya, jadi ya lebih ke akal gitu.

Saya masa bodo lah dengan remed ini, saya lebih baik terima hasil ulangan dengan bersih saja. tanpa adanya noda remed yang menyusahkan. Kalaupun nilai saya jelek, tak apalah. Yang penting ini hasil sendiri, tanpa menyontek teman. Remed itu seperti Sogok. ibaratnya seperti saat mendaftar sekolah favorit tapi tidak diterima, tapi karena adanya sogokan bisa diterima. Sama halnya dengan remed, nilai ulangan dibawah KKM, tapi karena adanya remed nilai bisa dinaikan walau pas2an sih.
Pikir saya mungkin ini hanyalah permainan mereka, saya tidak mau terlibat dalam permainan mereka.
Jumat, 12 Desember 2014 0 komentar

Jangan merasa paling benar/sok benar ? Begitukah ?

Penjelasanku mengenai agama yang pernah kusampaikan kepada kalian, anggaplah itu sebagai kalimat2 kosong dan tak layak untuk diingat.

Karena saya teringat perkataan beliau : "jangan merasa paling benar/sok benar" Pikirku orang yang terlihat benar belum tentu akhlaknya benar, dan orang yang terlihat tidak benar ternyata akhlaknya benar.
Karena perkataan beliau, Saya menjadi skeptis tentang hal-hal yang berbau kebenaran, butuh bukti banyak tentang kebenaran itu. Jika tidak ada bukti, saya akan menganggap orang sok benar.
Saya sekarang juga menjadi skeptis kepada perkataan beliau. Perkataan apa saja, saya jadi ragu dengan kebenarannya itu. Terkadang saya berpikir "jangan-jangan dia sok benar juga, tapi dia merasa dirinya benar".

Lama kelamaan saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri "Memang kebenaran itu, tidak ada yang paling-paling benar ?
Kenapa dia bilang jangan merasa paling benar ? apa itu artinya saya tidak boleh paling benar ?
Apakah saya harus setengah benar ? Apakah kebenaran itu relatif ? 
Kebenaran itu sebenarnya ada gak sih ? beliau itu memang paling benar apa setengah benar ?
Saya harus belajar kepada guru yang paling benar apa yang setengah benar ?
Kalau beliau paling benar, mengapa dia melarangku untuk paling benar ? Apakah ini pertanda kalau saya tidak boleh mengikuti jejaknya ? Tapi kenapa ? Salahkah mengikuti jejak paling benar ?".

Ada 1000 kemungkinan dipikiranku dari kalimat-kalimat "jangan merasa paling benar/sok benar".
Namun ada salah satu dari 1000 kemungkinan mengapa beliau bilang "jangan merasa paling benar/sok benar". Mungkin supaya saya tidak bersikap sombong kepada orang lain tentang hal-hal semacamnya :)
 
;